Perubahan habitat serta kemarau panjang dan kering berperan menciptakan kondisi ekologi yang mendukung terjadinya ledakan belalang kembara, Locusta migratoria manilensis.
Seperti yang terjadi pada beberapa tahun sebelumnya, El Niño 2026 kembali membawa musim kering yang panjang. Sawah kekurangan air. Sungai-sungai menyusut. Kebakaran hutan dan lahan muncul di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Bahkan Bogor, kota yang selama ini berjuluk Kota Hujan, sempat ikut mengalami kekeringan.
Namun, di balik kemarau yang panjang itu tersimpan ancaman lain yang tidak selalu segera terlihat. Ledakan populasi hama.
Dalam catatan sejarah perlindungan tanaman, sejumlah hama diketahui kerap meningkat populasinya setelah kemarau panjang. Di antaranya penggerek padi putih, Scirpophaga innotata, serta ulat grayak Spodoptera mauritia dan Mythimna separata.
Tetapi ada satu hama yang biasanya paling menyita perhatian yakni belalang kembara, Locusta migratoria manilensis (Gambar 1).
![]() |
| Gambar 1. Sepasang belalang kembara, Locusta migratoria manilensis, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Ketika populasinya meledak, belalang ini tidak lagi bergerak sebagai individu. Mereka berubah menjadi gerombolan dalam jumlah besar, bergerak bersama, dan meluluhlantakkan pertanaman yang dilintasinya.
Lampung pernah mengalami kisah semacam itu.
El Niño 1997 membawa kemarau panjang yang mengubah kondisi lingkungan. Setahun kemudian, pada 1998, populasi belalang kembara meledak. Jumlahnya luar biasa. Pertanaman di sejumlah tempat diserangnya.
Ada dua alasan mengapa saya memilih mengangkat kisah Lampung ini, dan bukan ledakan belalang di Kalimantan atau Nusa Tenggara Timur.
Pertama, saya menyaksikan sendiri ledakan itu. Pada Mei 1998, bersama Pak Idham (Dr. Idham Sakti Harahap) saya blusukan ke sejumlah lokasi serangan. Saya mengajaknya bukan tanpa alasan. Ia lahir dan dibesarkan di Lampung, sehingga mengenal betul daerah itu sampai ke pelosok-pelosoknya.
Kedua, ledakan belalang kembara di Lampung telah menarik perhatian seorang pakar belalang kembara kelas dunia, Dr. Michel Lecoq. Peneliti asal Prancis itu meraih gelar doktor entomologi dari Universitas Paris-Saclay pada 1975.
Lebih dari setengah abad hidup Lecoq diabdikan untuk memahami dunia belalang kembara. Ia menekuni dinamika populasi, ekologi, pemantauan, dan pengendalian hama tersebut, terutama melalui kiprahnya di CIRAD, Montpellier. Di lembaga penelitian itu, ia dipercaya memimpin Unit Riset “Ekologi dan Pengendalian Belalang Kembara” pada 1997–2010.
Perjalanan ilmiahnya membawa Lecoq ke berbagai wilayah tropik dan negara-negara yang menghadapi persoalan belalang kembara. Indonesia termasuk di antaranya.
Dengan dukungan dana dari Kedutaan Besar Perancis di Jakarta, Lecoq menghabiskan dua pekan di Indonesia, 19 Juni–2 Juli 1998. Dengan bantuan aparat perlindungan tanaman setempat, selama hampir lima hari ia menyusuri lokasi-lokasi serangan untuk melakukan survei.
Hasil pengamatan itu kemudian dituangkannya dalam sebuah laporan berjudul “Exceptional outbreaks of the oriental migratory locust in Indonesia: towards an integrated pest management strategy”. Laporan tersebut menjadi salah satu rujukan utama saya dalam menyiapkan tulisan ini.
Saya sendiri sempat bertemu dengan Lecoq ketika ia berkunjung ke Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian-IPB sewaktu masih di Kampus Baranangsiang, pada 29 Juni 1998.
Ketika tahun 2026 ini Indonesia kembali mengalami El Niño yang sangat kuat, kisah ledakan belalang kembara di Lampung itu layak untuk dikenang lagi.
***
Jauh sebelum Lampung dikepung belalang kembara pada 1998, serangga ini telah berkali-kali menimbulkan kerusakan di Nusantara. Jejaknya bahkan dapat ditelusuri hingga masa Hindia Belanda.
Salah satu catatan paling awal terselip dalam surat-surat seorang misionaris yang ditulis pada 1879–1880. Di dalamnya terdapat kisah tentang wabah belalang yang melanda Halmahera pada 1877. Serangannya begitu hebat dan berlangsung begitu lama sehingga sebagian penduduk terpaksa meninggalkan pulau itu dan berpindah ke pulau-pulau lain.
Wabah tersebut bukan kejadian yang berdiri sendiri. Pada masa yang hampir bersamaan, serangan belalang juga dilaporkan terjadi di Filipina dan Cina Selatan. Tahun-tahun itu ditandai kekeringan luar biasa di wilayah yang sangat luas, termasuk Kalimantan dan Jawa.
Jejak sejarah belalang kembara di Hindia kemudian dihimpun oleh Dr. FML Tammes dalam artikelnya, “Treksprinkhanen in Nederlandsch-Indië”, yang terbit pada 1935. Ketika itu Tammes menjabat Kepala Stasiun Percobaan Kelapa di Manado. Catatan tersebut lantas dilengkapi pada 1948 oleh Dr. LGE Kalshoven, yang saat itu menjadi Lektor Ilmu Hama Tumbuhan pada Fakultas Pertanian di Bogor.
Dari kedua catatan itu terungkap bahwa Halmahera kembali menghadapi serangan belalang sekitar 1914. Setahun kemudian, serangan dilaporkan terjadi di Minahasa dan Sulawesi Selatan. Sekitar 1918, belalang kembara dilaporkan menyerang Kalimantan bagian utara.
Ledakan berikutnya muncul silih berganti. Pada 1928, sebagian wilayah Sulawesi diserang. Empat tahun kemudian, pada 1932, giliran Kalimantan Barat. Pada 1941, belalang kembara kembali mengamuk di Halmahera Utara, Gorontalo, dan bagian timur laut Sulawesi.
Kemerdekaan Indonesia tidak serta-merta mengakhiri siklus serangan tersebut. Belalang kembara tetap menjadi salah satu hama yang secara berkala meledak di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Kalimantan.
Di Kalimantan Tengah, misalnya, ledakan tercatat pada 1952, 1959, 1972, 1976, 1980, 1988, 1990/1991, 1991/1992, hingga September 1993. Di Kalimantan Barat, catatan serangan muncul pada 1968, 1988, dan 1993.
Di luar Kalimantan, Pulau Sumba juga menyimpan sejarah panjang ledakan belalang kembara. Serangan tercatat berturut-turut pada 1973, 1974, dan 1975.
Catatan tentang Sumba ini mengingatkan saya pada Ir. Harsono Lanya, M.S., teman kuliah yang kelak sempat menjabat Kepala BBPOPT Jatisari. Pada 1974, ia menghabiskan waktu enam bulan di Sumba untuk meneliti bioekologi belalang kembara sebagai bahan penulisan skripsinya. Tak setiap mahasiswa berani menghadapi tantangan seperti itu.
Memasuki dekade 1990-an, jejak ledakan belalang kembara mulai bergeser ke Sumatera bagian selatan. Di Lampung, serangan pertama tercatat pada 1990. Dua tahun kemudian muncul kembali. Serangan berulang pada 1995–1996, dan mencapai puncaknya pada Mei 1998.
Ledakan dahsyat di Lampung itu membuat saya tak kuasa menahan diri untuk tidak terjun langsung ke lapangan. Tapi, masalahnya, ketika itu Jurusan HPT tidak punya anggaran untuk perjalanan lapangan.
Apa boleh buat, saya segera menghubungi Kepala LPPM IPB. Barangkali ada jalan keluar, setidaknya untuk ongkos transportasi dan logistik.
Tak lama kemudian, kabar baik datang. Permohonan bantuan dana disetujui.
Suatu hari pada Mei 1998, kami berdua—Pak Idham dan saya—berangkat ke Lampung dengan menumpang Kijang tua berwarna cokelat, satu-satunya kendaraan yang dimiliki Jurusan HPT. Sebuah kamera Canon AE-1, peninggalan semasa kuliah saya dulu di University of Wisconsin–Madison, ikut menemani perjalanan.
Kami tiba di Bandar Lampung ketika hari mulai gelap. Malam itu kami langsung menuju hotel. Esok paginya barulah perjalanan dilanjutkan, menyusuri pelosok-pelosok Lampung yang sedang dilanda serangan belalang kembara.
Berikut laporan pandangan mata dari TKP.
Hari pertama kami bergerak menuju Metro. Di sana kami menemukan hamparan pertanaman jagung yang terserang berat. Dari kejauhan tanaman tampak mengering dan tumbuh merana. Ketika didekati, helaian daun terlihat koyak seperti disayat dan dicabik-cabik secara tak beraturan. Hampir seluruh daun telah habis dimakan. Yang tersisa cuma tulang daun dan bagian batang (Gambar 2).
![]() |
| Gambar 2. Pertanaman jagung terserang parah belalang kembara, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Dari situ kami berjalan ke kampung sebelah. Pemandangan serupa kembali kami jumpai, kali ini pada hamparan pertanaman padi gogo. Serangan belalang kembara telah menghabiskan hampir seluruh helaian daun. Tinggal tulang-tulang daun yang mencuat dari batang. (Gambar 3).
![]() |
| Gambar 3. Pertanaman padi gogo terserang parah belalang kembara, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Kami kemudian berpindah ke kampung berikutnya, tempat hamparan sawah berada. Di sana kami melihat petakan padi yang juga diserang. Bagian tengah sawah tampak terbuka, jarang, compang-camping, bahkan nyaris gundul. Sebaliknya, bagian tepi yang luput dari serangan masih menghijau (Gambar 4).
![]() |
| Gambar 4. Sawah terserang berat belalang kembara, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Dari kampung itu kami melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, kami melewati kebun jagung yang ditumpangsarikan dengan singkong. Kedua tanaman itu masih muda. Dari kejauhan tampak kawanan belalang kembara beterbangan di atas pertanaman, berputar-putar di udara (Gambar 5).
![]() |
| Gambar 5. Kawanan imago belalang kembara terbang di atas pertanaman, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Jumlahnya begitu banyak sehingga gerakan mereka tampak seperti pusaran yang terus bergerak di atas tajuk jagung. Dalam istilah yang digunakan dalam kajian belalang kembara, kawanan imago yang beterbangan seperti itu disebut swarm.
Untuk sesaat kami berdiri memandanginya.
Di bawah kawanan yang beterbangan itu, belalang lain sibuk makan. Sebagian melompat dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Sebagian lagi berjalan di atas permukaan tanah.
Kami mencoba menangkap puluhan ekor untuk dimasukkan ke dalam kurungan yang memang sengaja kami bawa dari Bogor. Ternyata pekerjaan itu tidak mudah. Belalang melompat ke sana-kemari, lalu terbang dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Kami pun mengejarnya berulang kali.
Rupanya kegiatan kami menarik perhatian anak-anak kampung. Beberapa dari mereka mendekat. Mereka berdiri mengelilingi kami. Mata mereka mengikuti setiap gerakan tangan kami.
“Tolong bantu tangkap belalang, yuk," ajak saya kepada mereka.
Namun ajakan itu disambut gelengan kepala. Bahkan seorang anak mundur selangkah.
“Enggak, Pak. Takut sakit.”
“Sakit bagaimana?” tanya saya penasaran.
“Katanya kalau membunuh belalang nanti bisa sakit,” sela salah seorang dari mereka.
Anak-anak yang lain mengangguk. Mereka kemudian bercerita tentang seorang bapak di kampung yang konon jatuh sakit gegara membunuh belalang. Bahkan ada yang sampai meninggal. Mitos itu rupanya dengan cepat beredar dari mulut ke mulut.
Saya terdiam sejenak.
Uang lelah, yang sudah saya siapkan untuk upah menangkap belalang, rupanya tidak cukup untuk mengalahkan rasa takut mereka. Padahal, belalang yang hendak kami tangkap bukan untuk dibunuh. Kami hanya ingin memasukkannya ke dalam kurungan untuk diamati setelah dibawa ke Bogor.
Keesokan harinya kami bergerak menuju Kotabumi untuk mengunjungi perkebunan tebu.
Begitu tiba, kerusakan langsung terlihat. Hampir seluruh helaian daun tebu telah hilang. Yang tampak terutama tulang-tulang daun dan batang yang tumbuh merana (Gambar 6).
![]() |
| Gambar 6. Perkebunan tebu terserang parah belalang kembara, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Saat berjalan di antara barisan tebu, perhatian kami tertumbuk pada sepasang belalang kembara di permukaan tanah. Keduanya tidak melompat ataupun terbang. Seekor jantan berada di atas tubuh betina. Mereka diam dalam posisi kawin (lihat Gambar 1 sebelumnya)..
Di sekelilingnya, tanah perkebunan tampak kering dan terbuka. Batang-batang tebu berdiri dengan pertumbuhan yang merana.
Saya berhenti sejenak mengamati pasangan itu. Di tengah hamparan perkebunan tebu yang tumbuhnya merana, sepasang belalang seolah sedang mempersiapkan generasi berikutnya.
Ketika melewati hamparan perkebunan tebu, kami sengaja berhenti di tepi perkebunan itu. Tempat seperti itu menarik perhatian kami. Tanahnya ringan, terbuka, tidak tertutup vegetasi.
Dengan peralatan seadanya, kami menggali tanah sedikit demi sedikit. Setiap gumpalan tanah yang terangkat kami periksa dengan saksama.
Ternyata tidak sulit menemukan apa yang kami cari.
Pada kedalaman sekitar 5 cm, di dalam tanah, kami menemukan paket telur belalang kembara. (Gambar 7). Tanah ringan di sekitar perkebunan tebu itu rupanya menyediakan tempat yang sesuai untuk peletakan telur.
![]() |
| Gambar 7. Paket telur belalang kembara dalam tanah, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Setelah satu paket telur ditemukan, pencarian berikutnya terasa semakin mudah. Tanah yang dari permukaan tampak biasa saja ternyata menyimpan calon-calon generasi baru belalang kembara. Ya, kawanan belalang kembara yang terbang di udara itu berawal dari paket-paket telur yang tersembunyi di bawah tanah.
Kejutan belum selesai.
Ketika melewati jalan tanah di dalam kompleks perkebunan tebu, kami melihat pemandangan yang belum pernah kami saksikan sebelumnya.
Ribuan nimfa berjalan beriringan.
Mereka bergerak di atas jalan tanah dalam barisan panjang. Arahnya sama. Gerakannya hampir serempak. Dari kejauhan tampak seperti arus yang mengalir di atas permukaan jalan. Tidak tampak individu yang benar-benar berjalan sendiri. Yang di depan terus maju, sementara yang di belakang mengikutinya (Gambar 8).
![]() |
| Gambar 8. Barisan nimfa (hopper bands) belalang kembara, Lajur berwarna gelap adalah jejak motor lewat yang melindas rombongan nimfa, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Jalan tanah itu seolah-olah berubah menjadi jalan raya bagi belalang. Gerombolan nimfa semacam itu dikenal sebagai hopper band.
Terus terang saja, saat itulah untuk pertama kalinya kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang selama ini hanya kami lihat melalui layar televisi.
Kami berdiri cukup lama memperhatikan barisan nimfa itu.
Beberapa saat kemudian, matahari bergerak mendekati ufuk barat.
Kami memutuskan meninggalkan perkebunan. Namun ketika melewati semak-belukar, kami kembali melihat sesuatu yang menarik perhatian.
Sebuah gumpalan bergerak-gerak.
Kami berdua mendekat.
Ternyata gumpalan itu adalah nimfa belalang kembara. Mereka saling berhimpitan. Sebagian berada di atas yang lain, sebagian lagi menyelip di antara tubuh sesamanya. Semak-semak tempat mereka berkumpul hampir tak terlihat tertutup oleh tubuh-tubuh kecil itu (Gambar 9).
![]() |
| Gambar 9. Tumpukan nimfa belalang kembara menjelang senja, Mei 1998 (Foto: Aunu Rauf) |
Pemandangan itu rupanya berkaitan dengan perubahan perilaku menjelang senja. Setelah sepanjang siang bergerak dan memakan tanaman, nimfa belalang kembara tidak lagi berpencar mencari makanan. Mereka berhenti di suatu tempat dan tinggal bertumpukan. Jumlahnya puluhan bahkan ratusan ribu.
Dua pemandangan hari itu, barisan nimfa yang bergerak panjang pada siang hari dan tumpukan nimfa yang berhimpitan menjelang senja, menunjukkan adanya konsentrasi populasi belalang kembara.
Perkebunan tebu bukan sekadar menyediakan makanan. Hamparannya menyediakan ruang bagi belalang kembara untuk berkembang. Dan, tanah ringan yang terbuka, menyediakan tempat yang sesuai bagi belalang kembara untuk meletakkan telurnya.
Tak mengherankan, Lecoq menduga kawasan perkebunan tebu di Lampung merupakan salah satu pusat sumber (source centre) ledakan belalang kembara pada 1998.
Dari tempat semacam itulah populasi yang semula terkonsentrasi dapat berkembang, dan lantas menyebar ke pertanaman pangan di sekitarnya.
***
Ledakan belalang kembara di Lampung pada tahun 1998 sudah barang tentu tidak muncul secara tiba-tiba. Di belakangnya terdapat perubahan lingkungan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Sejak dekade 1970-an, hutan di Sumatera bagian selatan dibuka secara intensif. Sebagian kawasan berhutan itu lantas diubah menjadi perkebunan tebu, kelapa sawit, karet, dan singkong.
Perubahan itu bukan sekadar menghilangkan hutan. Ia sekaligus menciptakan habitat-habitat baru. Dan bagi belalang kembara, sebagian habitat baru tersebut ternyata sangat menguntungkan, terutama perkebunan tebu yang diusahakan di atas tanah ringan.
Karenanya, menurut pandangan Lecoq, deforestasi dan alih fungsi lahan merupakan penyebab utama jangka panjang yang mendukung peningkatan populasi belalang kembara.
Namun, perubahan habitat saja belum cukup menjelaskan mengapa ledakan 1998 begitu dahsyat. Faktor pemicu jangka pendeknya adalah kekeringan yang sangat hebat yang terjadi setahun sebelumnya.
Pola hubungan antara kekeringan dan ledakan belalang kembara di Sumatera bagian selatan sebenarnya telah terlihat sebelum itu. Ledakan pada 1992 mengikuti kekeringan 1991, dan ledakan 1995–1996 mengikuti kekeringan 1994.
Memang, Sumatera bagian selatan pada dasarnya merupakan kawasan yang sangat basah. Curah hujan tahunan umumnya sekitar 2.000–3.000 milimeter. Kondisi yang lembap ini biasanya tidak ideal bagi perkembangan populasi belalang kembara.
Namun ketika kekeringan panjang datang, habitat seperti perkebunan tebu di lahan bertanah ringan, menjadi tempat yang mendukung peletakan telur dan perkembangbiakan belalang kembara. Akibatnya, populasi belalang kembara terkonsentrasi di habitat ini. Pada saat yang bersamaan musuh alami diduga menurun tajam selama musim kering.
Ketika hujan turun pada musim berikutnya dan memicu penetasan telur, populasi yang telah terkumpul tadi kemudian berkembang cepat melalui beberapa generasi. Kepadatan yang tinggi ini selanjutnya memantik perubahan fase, dari fase soliter menjadi fase gregarius.
Lecoq memperkirakan ambang agregasi untuk L. m. manilensis sekitar 2.000 ekor dewasa per hektar. Artinya, melewati angka itu mulai terjadi perubahan fase.
Dan, pada saat memasuki fase gregarius terjadi perubahan perilaku. Nimfa mulai bergerak bersama membentuk hopper bands. Dan saat dewasa, mereka bergerak dalam kawanan terbang atau swarm. Keduanya itu sempat kami saksikan di Lampung.
Dalam konteks inilah hubungan antara El Niño, kekeringan, perubahan habitat, dan ledakan belalang menjadi menarik. Faktor-faktor lingkungan membantu meningkatkan populasi, sedangkan kepadatan populasi menjadi salah satu kunci yang memungkinkan terjadinya perubahan fase.
Ledakan Lampung 1998 dapat dibaca sebagai pertemuan antara faktor jangka panjang dan pemicu jangka pendek. Dalam kerangka Lecoq, El Niño adalah pemantik, sementara perubahan habitat adalah fondasinya. Ledakan populasi terjadi ketika keduanya bertemu dengan kondisi ekologi yang tepat.
Dengan demikian, El Niño bukanlah penyebab langsung terjadinya ledakan belalang kembara. Ia hanya menyiapkan panggung ekologi bagi terjadinya ledakan. Yakni ketika kondisi habitat, kelembapan, makanan, dan kepadatan populasi bertemu pada saat yang tepat.
***
Pertanyaan yang kemudian menyeruak yaitu mungkinkah El Niño 2026 memantik ledakan belalang kembara di sejumlah wilayah Indonesia di kemudian hari ?
Kemungkinan itu ada, tapi belum pasti. Karena itu, yang lebih penting bukan menebak apakah ledakan akan terjadi atau tidak, melainkan mengenali tanda-tandanya sedini mungkin.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa wilayah yang perlu diwaspadai bukan hanya Lampung. Belalang kembara memiliki sejarah ledakan populasi di sejumlah daerah di Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan.
Setiap wilayah tentu memiliki kondisi ekologi yang berbeda. Tapi, satu hal yang sama yaitu ledakan belalang kembara tidak muncul secara tiba-tiba.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika tanda-tanda awal mulai muncul di tempat yang diperkirakan sebagai "sarang" belalang kembara. Di antaranya banyak telur ditemukan di dalam tanah, nimfa mulai bergerombol, dan belalang dewasa tampak meningkat jumlahya.
Pada tempat dan saat itulah waktu yang tepat untuk melakukan pengendalian, baik mekanis maupun kimia.
Sebab, tatkala kawanan belalang kembara sudah memenuhi langit, itu tandanya kita terlambat.
Farrow RA. 1974. Comparative plague dynamics of tropical Locusta (Orthoptera, Acrididae). Bull Entomol Res 64: 401-411.
Farrow RA. 1987. Effects of changing land use on outbreaks of tropical migratory locust, Locusta migratoria migratorioides (R&F). Insect Sci Applic 8(4/5/6): 969-975.
Kalshoven LGE. 1948. Aanvullende gegevens over het optreden in Indonesie van de treksprinkhaan (Locusta migratoria manilensis Meyen). Landbouw 9/10: 349-364.
Lecoq M. 1998. Exceptional outbreaks of the oriental migratory locust in Indonesia: towards an integrated pest management strategy. Report and recommendations based on a survey conducted in southern Sumatera, 19 June-2 July 1998. Departement amelioration des methodes pou l'innovation scientifique Cirad-amis. CIRAD.
Otanes FQ. 1940. Notes on the oriental migratory locust (Locusta migratoria manilensis Meyen) with special reference to its solitary phase and breeding place or outbreak area. Te Phlippine Journal of Agriculture. 11(4): 331-367.
Sudarsono H. 2003. Hama belalang kembara (Locusta migratoria manilensis Meyen): Fakta dan analisis awal ledakan populasi di Provinsi Lampung. J Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika 3(2): 53-59.
Tammes PML. 1935/36. Treksprinkhanen in Nederlandsch-Indie. Landbouw 3: 114-122.
Uvarov BP. 1936. The oriental migratory locust (Locusta migratoria manilensis, Meyen 1835). Bull Entomol Res 27: 91-104.
Zhang Z, Li D. 1999. A possible relationship between outbreaks of the oriental migratory locust (Locusta migratoria manilensis Meyen) in China and the El Nino episodes. Ecological Research 14: 267-270.








