Thursday, October 29, 2026

Dr. KW Dammerman: Ketika Pakar Hama Jatuh Hati pada Kehidupan Krakatau

Kepala Museum Zoologi Bogor (1919-1939) dan Direktur Kebun Raya Bogor (1932-1939) itu meninggalkan pelajaran berharga bahwa alam tak pernah berhenti bercerita kepada mereka yang tekun mengamatinya. 

Aunu Rauf*

Pada awal September 2026 yang lalu, Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava dan material vulkanik. Erupsi itu berlangsung sekitar 25 jam, sejak malam 4 September hingga dini hari 6 September. 

Abu vulkanik yang terbawa angin menyebar ke berbagai kawasan, termasuk permukiman di Bogor. Pagi-pagi, ketika saya membuka pintu rumah, lapisan tipis abu vulkanik menyelimuti lantai teras. Daun-daun aglonema tampak kusam, kehilangan kilapnya. Beruntung, kendaraan tersimpan aman di dalam garasi tertutup.

Selama beberapa hari, saya pun terpaksa mengenakan masker ketika berangkat salat subuh ke masjid. Oh ....,serasa masa pandemi Covid-19 beberapa tahun silam.

Erupsi Anak Krakatau itu seolah membuka kembali lembaran lama dalam sejarah alam Nusantara.

Hampir satu setengah abad lampau, Krakatau meledak dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat. Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh pulau dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatera. 

Setelah erupsi mereda, kehidupan di pulau itu perlahan kembali pulih. Tumbuhan tumbuh dari tanah yang tersisa. Burung datang dari daratan yang jauh. Serangga menyeberangi laut dengan sayapnya, terbawa angin, atau mungkin menumpang pada batang dan potongan vegetasi yang hanyut. 

Satu demi satu, penghuni baru tiba. Kehidupan menggeliat kembali, membentuk komunitas yang kian beragam di pulau yang pernah luluh lantak itu.

Puluhan tahun kemudian, seorang lelaki yang semula dikenal sebagai ahli zoologi dan peneliti hama tanaman tampak berjalan menyusuri pulau tersebut.

Namanya Karel Willem Dammerman.

Bagi pembaca yang mengikuti tulisan-tulisan saya sebelumnya, KW Dammeman mungkin bukan nama yang asing. Saya pernah menyebutnya, antara lain, ketika menulis tentang penggerek padi putih, Scirpophaga innotata. 

Ya, Dammerman adalah  orang yang pertama kali melaporkan bahwa ulat S. innotata berdiapause dalam pangkal batang padi selama musim bera. 

Lantas siapakah sebenarnya sosok KW Dammerman (Gambar 1), dan apa saja kiprahnya selama tinggal di Hindia Belanda. 

KW Dammerman
Gambar 1. Karel Willem Dammerman (Sumber: Biographical Dictionary of the Netherlands, 1985)

Yuk, simak kisahnya berikut ini.

Karel Willem Dammerman lahir di Arnhem pada 4 Juli 1885. Ia menamatkan pendidikan menengah di kota itu pada 1905. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi ke Universitas Utrecht, tempat ia mendalami zoologi di bawah bimbingan Prof. Hubrecht.

Minatnya pada dunia hewan membawanya meneliti gelembung renang ikan. Penelitian itu kemudian menjadi bahan disertasinya, yang ia kerjakan ketika bertugas sebagai asisten di Rijksmuseum van Natuurlijke Historie, Leiden. Pada 1910, ia meraih gelar doktor dari Universitas Utrecht dengan predikat cum laude.

Gelar itu membuka jalan menuju Hindia Belanda. Pada November 1910, Dammerman berangkat ke wilayah koloni Belanda di Asia Tenggara. Semula, ia direncanakan bertugas di Museum Zoologi Bogor yang kala itu masih bernama Zoologisch Museum en Laboratorium. Namun, kebutuhan tenaga ahli mengubah arah penempatannya.

Dr. CJJ van Hall, Kepala Institut Penyakit Tumbuhan (Instituut voor Plantenziekten) yang saat itu kekurangan tenaga, melihat peluang pada kedatangan ilmuwan muda tersebut. Ia berhasil meyakinkan Direktur Departemen Pertanian, Dr. Lovink, agar Dammerman ditempatkan di institutnya sebagai ahli entomologi. 

Institut ini terdiri dari tiga unit: Laboratorium Zoologi, Laboratorium Botani, dan Karantina Tumbuhan. Di institusi inilah Dammerman mulai menerjuni dunia hama tanaman.

Kiprah di Bidang Hama Tanaman

Penggerek karet kebo

Pada awal kariernya di Hindia Belanda, KW Dammerman merasa terpanggil untuk mempelajari hama yang menggerek batang pohon karet kebo (Ficus elastica). Di sejumlah kebun di Pegunungan Selatan Jawa, tingkat kematian pohon akibat serangan hama ini dilaporkan mencapai 90%.

Biang keladinya adalah kumbang boktor Batocera albofasciata, yang kini dikenal sebagai Batocera rubus dari famili Cerambycidae (Gambar 2).

Kumbang Batocera albofasciata
Gambar 2. Kumbang Batocera albofasciata (Sumber: Dammerman, 1913)

Dammerman tak tinggal diam. Ia mempelajari hama penggerek itu dan menuangkan hasil pengamatannya dalam monograf berjudul "De boorders in Ficus elastica Roxb.", yang terbit pada 1913. 

Buku setebal 43 halaman itu secara khusus membahas berbagai serangga penggerek pada tanaman tersebut.

Ketika menulis bagian ini, dalam benak saya sempat terlontar pertanyaan usil. 

"Ngapain Dammerman repot-repot meneliti hama karet kebo?"

Usut punya usut, oh ...ternyata pada paruh kedua abad ke-19 hingga awal abad ke-20, karet kebo merupakan tanaman penghasil karet yang penting di Hindia Belanda. 

Namun, masuknya karet Hevea brasiliensis dari Brasil ke Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 secara bertahap menggeser posisi Ficus elastica sebagai sumber utama karet. 

Semua pohon karet kebo yang setengah mati dan hampir tidak lagi menghasilkan lateks ditebang dan diganti dengan karet Hevea brasiliensis. Peralihan tersebut berlangsung di berbagai perkebunan di Jawa dan Sumatera. 

Rayap karet

Peralihan dari karet kebo ke Hevea brasiliensis ternyata tidak serta-merta membebaskan perkebunan dari gangguan hama. Muncul persoalan lain. .

Sepanjang 1910–1911, Departemen Pertanian menerima sejumlah laporan mengenai kematian pohon karet yang diduga disebabkan oleh rayap. Dammerman kemudian turun langsung ke lapangan. 

Pada 1912, ia mengunjungi perkebunan karet di sekitar Banjar untuk memeriksa pohon-pohon yang terserang. Ia juga mendatangi perkebunan di kawasan Rangkasbitung, tempat serangan serupa dilaporkan pada tanaman karet, kapuk, dan kenari.

Pemeriksaan lapangan itu membawanya pada persoalan yang lebih luas daripada sekadar kematian pohon karet. Rayap yang ditemukan ternyata juga menyerang sejumlah jenis tanaman berkayu lainnya. 

Spesies tersebut kemudian diidentifikasi oleh Holmgren, pakar rayap di Stockholm, sebagai Coptotermes gestroi. Masyarakat setempat bahkan memiliki sebutan tersendiri untuk rayap karet itu, yakni rinyuh warangas.

Dammerman lantas merangkum hasil pengamatannya itu dalam publikasi berjudul "De Hevea-termiet op Java" yang terbit pada 1913. Di dalamnya dibahas keberadaan dan kebiasaan hidup Coptotermes gestroi di Jawa. 

Rayap jati

Pengalamannya meneliti rayap pada tanaman karet kelak membawanya berhadapan dengan persoalan serupa di perkebunan jati. Kali ini, laporan datang dari Dinas Kehutanan Jawa Tengah. Sejumlah pohon jati di Kedungjati, dekat Semarang, memperlihatkan gejala yang tidak lazim.

Pohon-pohon berumur sekitar 20–30 tahun itu mengalami pembengkakan batang pada ketinggian 3-6  m dari permukaan tanah (Gambar 3). Di beberapa lokasi, hingga 75 persen pohon dilaporkan terserang. Bagian batang yang membengkak menjadi titik lemah. Pohon-pohon jati tersebut kerap patah di bagian itu.

Kalotermes tectonae
Gambar 3. Pohon jati yang terserang Kalotermes tectonae pada ketinggian lebih dari 3 m di atas permukaan tanah (kiri); batang pohon jati dengan deretan benjolan (kanan) (Sumberr: Kalshoven, 1930)

Bagi Dammerman, persoalan ini menarik perhatian karena rayap yang ditemukan bukan sekadar pemakan kayu mati atau tunggul jati. Serangga itu menyerang pohon yang masih hidup. Kerusakan yang ditimbulkannya pun bukan hanya mengurangi kualitas kayu, melainkan dapat merobohkan pohon sebelum waktunya.

Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa rayap di dalam pembengkakan batang tersebut merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan. Pada 1915, Dammerman menerbitkan deskripsi ilmiahnya dan memberinya nama Kalotermes tectonae. Spesies ini kini dikenal sebagai Neotermes tectonae (Dammerman).

Dammerman memang bukan ahli taksonomi serangga. Tetapi penyelidikannya tentang hama tanaman membawanya menemukan spesies baru yang tak pernah dikenali sebelumnya. 

Penemuan rayap jati itu kemudian menarik perhatian LGE Kalshoven, yang menelitinya lebih lanjut sebagai bahan disertasi di Universitas Pertanian Wageningen.

Lalat buah

Perhatian Dammerman terhadap serangga tidak hanya tertuju pada hama yang merusak batang pohon. Ia juga berperan dalam pengumpulan spesimen dan pencatatan fauna serangga, termasuk lalat buah. 

Koleksi semacam ini menjadi bahan penting bagi penelitian taksonomi, terutama untuk mengenali dan membedakan spesies yang tersebar di berbagai wilayah Hindia Belanda.

Salah satu koleksi yang dikaitkan dengannya berasal dari Gunung Ijen, Jawa Timur, dan dikumpulkan pada Mei 1924. Dalam kajiannya mengenai lalat buah Indonesia, EM Hering menggunakan salah satu spesimen koleksi Dammerman sebagai holotipe Strumeta (Bactrocera) transtillum, spesies yang dideskripsikan sebagai jenis baru.

Dengan demikian, sumbangsih Dammerman tidak selalu berupa penemuan langsung. Dalam sejumlah kasus, ia juga menyediakan bahan penelitian yang kelak dimanfaatkan ilmuwan lain untuk memperluas pengetahuan tentang fauna serangga di Nusantara.

Penggerek padi putih

Barangkali kontribusi terbesar dari KW Dammerman dalam bidang hama tanaman adalah penelitiannya tentang penggerek padi putih,Scirpophaga innotata (Gambar 4). Serangan hama ini di Jawa kerap menimbulkan kegagalan panen dan kelaparan.  

Scirpophaga innotata
Gambar 4. Penggerek padi putih (Sumber: Dammerman, 1916)

Misalnya, pada bulan Mei 1912, serangan hama ini di Cirebon, Surabaya, dan Madura menyebabkan 40.000 bahu sawah mengalami puso. Kerugian yang diderita penduduk diperkirakan mencapai sekitar 1.000.000 pikul padi, dengan nilai kurang lebih 2.500.000 gulden. 

Dammerman mencatat bahwa larva penggerek padi putih dapat bertahan melewati musim kemarau di bagian bawah tunggul padi yang mengering. Larva itu tidak segera berubah menjadi pupa setelah panen. 

Sebaliknya, aktivitasnya menurun dan perkembangannya tertahan dalam keadaan yang dikenal sebagai droogteslaap atau "tidur musim kemarau”. Dalam istilah entomologi disebut diapause.

Ketika musim hujan tiba dan kondisi kembali mendukung, larva melanjutkan perkembangannya. Larva kemudian menjadi pupa dan akhirnya berubah menjadi ngengat. 

Dengan demikian, tunggul padi yang tertinggal setelah panen bukan sekadar sisa tanaman. Di dalamnya, sebagian populasi hama dapat bertahan hidup sambil menunggu musim berikutnya.

Pada 1915, Dammerman menerbitkan hasil penelitiannya dalam monograf berjudul "De rijstboorderplaag op Java". Kajian itu tidak sekadar mendokumentasikan kerusakan akibat penggerek padi putih, tetapi juga menelusuri kehidupan hama ketika tanaman padi sudah dipanen. 

Pengetahuan tentang tempat larva bertahan hidup selama musim bera memiliki arti praktis. Pengelolaan sisa tanaman setelah panen dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya menekan populasi hama. 

Penelitian Dammerman itu kemudian menjadi rujukan bagi peneliti lain. P van der Goot, misalnya, mengembangkan penelitian tentang penggerek padi putih sebagai bahan disertasinya di Universitas Pertanian Wageningen. 

Tikus dan laboratorium di Malang

Memasuki pertengahan 1910-an, perhatian Dammerman tersedot pada hewan pengerat. Pada masa itu, keluhan mengenai kerusakan tanaman akibat tikus semakin meningkat. 

Persoalan tersebut beriringan dengan merebaknya wabah pes di Jawa, yang mulai muncul di Jawa Timur pada 1910. Penyakit yang ditularkan melalui pinjal yang hidup pada hewan pengerat itu menjadikan tikus perhatian bersama para ahli pertanian dan kesehatan.

Pada akhir 1914, Dammerman mendirikan laboratorium tikus sementara di Malang. Laboratorium tersebut berafiliasi dengan Laboratorium Pes setempat. Pemilihan Malang bukan tanpa alasan. 

Di wilayah itu tersedia banyak bahan penelitian, baik tikus hidup maupun yang telah mati. Selain itu, Dammerman dapat bekerja sama dengan Dr. Otten, kepala Laboratorium Pes, yang menelaah persoalan tikus dari sudut pandang medis.

Pada 1916, Dammerman menerbitkan "Gegevens over de rattenplaag in de afdeeling Malang", sebuah kajian mengenai persoalan tikus di wilayah Malang. Perhatiannya berlanjut pada tikus ladang. Hasil kajian berikutnya diterbitkan pada 1918 dengan judul "Gegevens over de veldratten plaag op Java".

Melalui pengamatan lapangan dan pengumpulan spesimen, Dammerman berusaha mengenali jenis-jenis tikus, habitat, dan persebarannya. Ia tidak hanya mempersoalkan jumlah tikus yang meningkat, tetapi juga perbedaan kelompok yang hidup di sawah, ladang, dan permukiman. 

Cuti dan Kepindahan ke Museum

Setelah sekitar 6 tahun berkutat dengan persoalan hama tanaman di Institut Penyakit Tumbuhan, KW Dammerman mengambil cuti ke Belanda pada awal Maret 1917. 

Perjalanan itu tidak sekadar menjadi kesempatan pulang ke negeri asal. Ia menempuh rute melalui Jepang, Hawaii, dan Amerika Serikat, sekaligus mempelajari sistem karantina tumbuhan di negara-negara yang disinggahinya.

Sekembalinya ke Hindia Belanda, Dammerman mendapat tugas baru dari Kepala Institut Penyakit Tumbuhan, Dr. CJJ van Hall. Ia diminta menyusun buku referensi tentang zoologi pertanian di Hindia Belanda. 

Dua tahun kemudian, pada 1919, buku tersebut terbit dengan judul "Landbouwdierkunde van Nederlandsch-IndiĆ«". Karya itu merangkum pengalaman Dammerman selama bekerja di Institut Penyakit Tumbuhan sejak 1910, dan merupakan salah satu tonggak penting dalam karier KW Dammerman sebagai ahli zoologi pertanian. 

Buku tersebut selama bertahun-tahun menjadi rujukan utama para guru pertanian, pengelola perkebunan, stasiun percobaan, lembaga penyuluhan pertanian, serta entomologiwan amatir. Saking larisnya, buku tersebut sempat habis terjual. 

Karena itu, 10 tahun berselang, pada tahun 1929 ia menerbitkan edisi berbahasa Inggris dengan judul “The Agricultural Zoology of the Malay Archipelago” (Gambar 5). Cakupannya diperluas, tak hanya Hindia Belanda, tetapi meliputi Semenanjung Melayu dan Filipina. 

Hama penting di Hindia Belanda
Gambar 5. Kulit muka buku "The Agricultural Zoology of the Malay Archipelago" terbitan 1929.

Buku itu kini tergolong sangat langka. Saat saya menengok Amazon.com, ia dibanderol Rp 1,7 juta, belum termasuk ongkos kirim. Beruntung, saya memiliki versi PDF-nya yang saya unduh secara cuma-cuma dari sebuah perpustakaan di Belanda.

Jauh sebelum itu, saya sudah mengenali buku ini. Ketika masih mahasiswa pada pertengahan 1970-an, saya pernah menjumpainya di perpustakaan Fakultas Pertanian IPB. Saya kerap berkunjung ke perpustakaan itu karena letaknya bersebelahan dengan laboratorium pendidikan Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT).

Bahkan, saat saya menjabat Ketua Jurusan HPT pada pertengahan 1980-an, saya sengaja membuat fotokopi-nya untuk disimpan di perpustakaan jurusan. Entah di rak mana sekarang buku itu tersimpan. 

Sejatinya buku tersebut dapat dipandang sebagai "instar awal" dari dua jilid buku Kalshoven "De plagen van de cultuurgewassen in Indonesie", yang terbit tahun 1950 dan 1951. 

Tak lama setelah menuntaskan penulisan bukunya, Dammerman—yang hatinya lebih tertambat pada ilmu murni—pada Juli 1919  menerima pinangan untuk menjabat sebagai kurator pada Museum Zoologi Bogor. 

Perpindahan itu merupakan semacam plot twist dalam perjalanan ilmiahnya. Lelaki yang selama hampir satu dasawarsa mempelajari hama tanaman kini beralih ke lembaga yang memberinya peluang untuk meneliti fauna Hindia Belanda secara lebih menyeluruh.

Menata museum

Ketika Dammerman mulai bekerja, Museum Zoologi Bogor belum sepenuhnya menjadi pusat koleksi ilmiah yang tertata. Sebagian koleksinya berupa hewan berukuran besar yang telah diawetkan dan dipajang. Sementara itu, koleksi serangga masih banyak yang belum ditata dan dipelajari secara sistematis.

Di sinilah pekerjaan besar menantinya. Dammerman mulai menata koleksi, menambah spesimen, dan mengembangkan kegiatan penelitian. Pada mulanya ia bekerja seorang diri, sebelum kemudian memperoleh bantuan sejumlah asisten. Perlahan-lahan, koleksi museum berkembang menjadi salah satu koleksi zoologi penting di kawasan tropis.

Bagi Dammerman, museum bukan sekadar tempat menyimpan hewan yang telah diawetkan. Koleksi harus menjadi bahan untuk menjawab pertanyaan ilmiah. Spesies apa yang hidup di suatu wilayah, di mana persebarannya, dan bagaimana hubungan antara hewan dengan lingkungannya. 

Namun, Dammerman bukan tipe kurator yang puas bekerja di antara lemari dan kotak spesimen. Ia gemar melakukan perjalanan lapangan, baik ke daerah sekitar Buitenzorg maupun ke pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan Hindia Belanda. 

Di luar museum, ia menjumpai kekayaan fauna yang beragam, sekaligus menyaksikan kawasan alam yang rusak akibat pembukaan lahan pertanian dan kegiatan manusia lainnya.

Pengalaman itu membuat perhatian Dammerman meluas. Jika dahulu ia mempelajari hewan terutama karena kerugian yang ditimbulkannya terhadap tanaman, kini ia semakin melihat pentingnya mempertahankan kehidupan hewan beserta lingkungan tempatnya tinggal. 

Melanjutkan gagasan perlindungan alam

Perhatian Dammerman terhadap kelestarian alam bertaut dengan gerakan yang sebelumnya dirintis Dr. SH Koorders, seorang ahli botani yang gigih memperjuangkan perlindungan alam di Hindia Belanda.

Ketika Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming (NIVN), atau Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda, didirikan pada 1912, Dammerman dipercaya menjadi sekretaris. Setelah Koorders meninggal pada November 1919, Dammerman mengambil alih kepemimpinan organisasi tersebut. Ia menjabat ketua NIVN hingga 1932.

Tugas itu memberinya ruang untuk membawa gagasan perlindungan alam ke ranah yang lebih luas. Alam tidak cukup diselamatkan hanya karena pemandangannya indah atau karena suatu spesies dianggap langka. 

Kawasan tempat tumbuhan dan hewan hidup juga harus dipertahankan. Tanpa perlindungan habitat, upaya menyelamatkan satwa satu per satu akan sulit menjamin kelangsungan hidup populasinya.

Dammerman berusaha memperluas gagasan tersebut melampaui lingkungan perkumpulan ilmuwan. Pada 1929, dalam Pacific Science Congress yang diselenggarakan di Jawa, ia menyampaikan makalah berjudul "Preservation of Wild Life and Nature Reserves in the Netherlands Indies". 

Tulisan sepanjang 91 halaman itu membahas perlindungan satwa liar dan kawasan konservasi di Hindia Belanda, termasuk rancangan serta perangkat hukum yang berkaitan dengan perlindungan kawasan.

Taman Nasional Baluran di Jawa Timur, misalnya, awalnya merupakan hutan lindung yang ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda atas usulan Dammerman pada tahun 1930.

Membangun tradisi ilmiah di museum

Selain menata koleksi dan memperjuangkan perlindungan alam, Dammerman turut membangun tradisi penerbitan ilmiah di lingkungan Museum Zoologi Bogor. 

Jurnal zoologi "Treubia" didirikan menjelang masa kepemimpinannya sebagai kepala museum. Sejak volume kedua, ia mengambil alih penyuntingan jurnal tersebut dan mengelolanya seorang diri selama bertahun-tahun.

Di tangan Dammerman, museum bukan hanya tempat mengumpulkan spesimen, melainkan juga tempat pengetahuan tentang fauna Hindia Belanda dihimpun dan disebarluaskan. 

Jatuh Hati pada Kehidupan Krakatau

Pada 1919, ketika KW Dammerman mulai bertugas sebagai kurator Museum Zoologi, hatinya kepincut oleh sebuah kepulauan kecil di Selat Sunda. Namanya Krakatau. Gunung api ini pernah meledak dahsyat pada Agustus 1883, menghancurkan sebagian besar pulau dan menyapu kehidupan yang ada di atasnya.

Letusan itu mengubah Krakatau menjadi semacam laboratorium alam raksasa. Material vulkanik panas menutupi pulau-pulau yang tersisa. Kehidupan yang semula menghuni kawasan itu nyaris musnah.

Waktu perlahan membuka lembaran baru. Tumbuhan kembali tumbuh, disusul serangga, laba-laba, burung, dan berbagai hewan lainnya. Satu demi satu, penghuni baru berdatangan. Pulau yang pernah kehilangan hampir seluruh kehidupannya itu mulai dihuni kembali.

Bagi seorang zoologiwan seperti Dammerman, peristiwa tersebut menghadirkan kesempatan yang langka. Kedatangan kembali fauna ditelusurinya melalui catatan lapangan, spesimen, dan perbandingan dengan hewan yang hidup di pulau-pulau sekitarnya.

Burung terbang melintasi laut. Sebagian serangga mungkin menempuh perjalanan serupa, terbawa angin. Hewan lain bisa jadi hanyut bersama arus laut, menumpang pada batang atau potongan tumbuhan yang terapung, atau terbawa oleh organisme lain. 

Memburu jejak kehidupan

Sejatinya Dammerman bukan orang pertama yang menyelidiki fauna Krakatau. Pada 1908, E Jacobson telah menjelajahi pulau itu. Ia mencatat 196 jenis hewan. Koleksinya mencakup 14 burung, 2 reptil, 150 serangga, 18 laba-laba, 3 krustasea darat, 2 siput, 6 kaki seribu, dan 1 ekor cacing.

Sebelas tahun kemudian, Dammerman memulai rangkaian pengamatan yang lebih intensif. Ia mengunjungi Krakatau dan pulau-pulau di sekitarnya pada Desember 1919, kemudian kembali pada April dan September 1920, April dan Oktober 1921, serta Januari 1922. Setiap kunjungan memberinya kesempatan untuk menambah koleksi dan mencatat perubahan fauna yang menghuni kawasan tersebut.

Hasilnya memperlihatkan perubahan yang mencolok. Dalam rangkaian penelitian yang dilaporkan untuk periode 1919–1922, Dammerman mencatat 573 jenis hewan di Krakatau. Jumlah itu hampir tiga kali lipat catatan Jacobson pada 1908.

Dari 573 jenis tersebut, 441 merupakan serangga dan 73 lainnya laba-laba. Selebihnya terdiri atas 3 mamalia, 34 burung, 4 reptil, 4 kaki seribu, 3 krustasea, 5 moluska, dan 6 cacing. Serangga merupakan kelompok paling beragam dalam catatan itu, disusul laba-laba.

Pengamatan Dammerman selama bertahun-tahun itu kemudian dituangkan dalam buku "The Fauna of Krakatau, 1883–1933", yang terbit tahun 1948 (Gambar 6). Buku setebal 594 halaman itu menjadi rekaman penting tentang proses kolonisasi fauna sebuah pulau selama setengah abad setelah letusan dahsyat 1883.

Satwa Penghuni Krakatau 1883-1933
Gambar 6. Kulit muka buku "The Fauna of the Krakatau" terbitan 1948.

Saya pernah iseng-iseng mencoba mencari di internet barangkali ada toko daring yang menjual buku ini. Di AbeBooks, anak perusahaan Amazon yang khusus menjual buku antik, karya KW Dammerman itu dibanderol US$ 102.34, ditambah ongkos kirim dari UK ke Indonesia sebesar US$ 29.43.

Warisan bagi ilmu biogeografi pulau

Nilai ilmiah penelitian Dammerman terlihat beberapa dasawarsa kemudian. Catatan panjangnya tentang fauna Krakatau menjadi bahan yang berharga bagi para ahli yang berusaha memahami hubungan antara imigrasi, kepunahan, dan jumlah spesies di suatu pulau.

Pada 1960-an, Robert MacArthur dan Edward O Wilson mengembangkan teori biogeografi pulau. Teori itu menjelaskan bahwa jumlah spesies di sebuah pulau dipengaruhi oleh keseimbangan antara kedatangan spesies baru dan kepunahan spesies yang telah menetap. Dalam kerangka ini, jumlah spesies dapat relatif stabil, meskipun jenis yang membentuk komunitasnya terus berganti.

Bagi Anda yang pernah mengikuti kuliah Ekologi Serangga dari saya pastilah memahaminya. Bahkan, teori biogegrafi pulau ini saya singgung pula pada kuliah Sistem Pengelolaan Hama Terpadu. Karena suatu pertanaman, misalnya petakan padi sawah, pada hakekatnya adalah "ecological island".

Sudah barang tentu, Dammerman tidak merumuskan teori tersebut dalam bentuk model seperti yang kemudian dikembangkan MacArthur dan Wilson. Namun, catatan Krakatau yang dihimpunnya menyediakan data empiris berharga untuk memahami proses kolonisasi dan pergeseran komposisi fauna. 

Tak mengherankan bila IWB Thornton, dalam tulisannya pada 1992 berjudul "KW Dammerman—Fore-runner of Island Equilibrium Theory?", menempatkan Dammerman sebagai perintis gagasan keseimbangan fauna pulau. 

Di sinilah keistimewaan karya Dammerman. Ia mengamati Krakatau bukan sebagai ekosistem yang sudah mapan, melainkan sebagai komunitas kehidupan yang sedang tumbuh. 

Bagi Dammerman, Krakatau bukan sekadar objek penelitian. Pulau itu memberinya kesempatan untuk menyaksikan sebuah proses yang biasanya tersembunyi dalam rentang waktu panjang. 

Barangkali itulah yang membuatnya jatuh hati pada Krakatau. Bukan semata-mata karena gunung api itu pernah mengguncang dunia, melainkan karena di atas puing-puing kehancurannya, alam memperlihatkan kemampuannya untuk memulai kehidupan baru. 

Dan Dammerman, dengan ketekunan seorang zoologiwan, meninggalkan catatan yang memungkinkan generasi sesudahnya membaca kisah tersebut.

Penutup

KW Dammerman tak hanya meninggalkan jejak panjang dalam dunia ilmu pengetahuan. Ia sempat menduduki jabatan Kepala Museum Zoologi Bogor pada 1919–1939, serta merangkap Direktur Kebun Raya Bogor pada 1932–1939. 

Di balik perjalanan kariernya, tersimpan pula kisah pilu. Pada 1935, ia ditinggal wafat oleh istrinya, JC Reinders. Kehilangan itu menjadi pukulan berat baginya. 

Pada 1939, ia pensiun dan meninggalkan Jawa. Dan sejak 1942 sisa hidupnya dihabiskan sebagai staf di Museum Sejarah Alam di Leiden. KW Dammerman mengembuskan napas terakhirnya pada 19 November 1951 di usia 66 tahun.

Bagi orang yang baru mengenalnya, Dammerman mungkin tampak dingin. Ia pendiam, tertutup, dan agak pemalu. Namun, kesan itu tak sepenuhnya menggambarkan dirinya. Di tengah orang-orang yang dekat dengannya, ia bisa tampil hangat, ceria, dan jenaka. 

Di balik sikapnya yang bersahaja, tersimpan pikiran yang luas serta rasa ingin tahu yang tak pernah padam terhadap kehidupan di sekelilingnya. Barangkali di situlah letak warisan terpenting yang ditinggalkannya. 

Referensi

Dammerman KW. 1913. De boorders in Ficus elastica Roxb. Meded. Afd. Plantenziekten, Buitenzorg 7. 44 pp.

Dammerman KW. 1913. De Hevea termiet op Java. Meded. Afd. Plantenziekten, Buitenzog 3. 12 pp.

Dammerman KW. 1915. On a new species of Calotermes (Cal. tectonae nov. sp.) which attacks living teak trees. Tijdschr. Entom. 58: 98-100.

Dammerman KW. 1916. De rijstboorderplaag op Java. Meded. Lab. Plantenziektn Inst. Plantenziekten & Culture 16. 71 pp.

Docters van Leeuwen WM. 1952. In Memoriam Karel Willem Dammerman. Entomologische Berichten XIV(319): 1-2.

Hering EM. 1952. Fruchtfliegen (Trypetidae) von Indonesien (Dipt.). Treubia 21: 203-290.

Holthuis LB. 2013. Dammerman, Karel Willem (1885-1951). In: Biographical Dictionary of the Netherlands. URL:http://resources.huygens.knaw.nl/bwn1880-2000/lemmata/bwn2/dammerman.

Kadarsan S, Djajasasmita M, Martodihardjo, Somadikarta. 1994. Satu Abad Museum Zoologi Bogor 1894-1994. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, LIPI.

Lieftinck MA. 1952. Obituary Karel Willem Dammerman (1885-1951). Treubia 21: 469-480.

Roepke W. 1953. In Memoriam Karel Willem Dammerman 1885-1951. Tijdschrift voor Entomologie 96: 9-12.

Thornton IWB. 1992. K.W. Dammerman --Fore-runner of island equilibrium theory?. Global Ecology and Biogeography Letters 2: 145-148.


Untuk keperluan sitasi, silakan tulis:
Rauf A. 2026. Dr. KW Dammerman: Ketika Pakar Hama Jatuh Hati pada Kehidupan Krakatau. https://www.serbaserbihama.com/2026/10/kw-dammerman-kehidupan-krakatau.html  Diakses tanggal (sebutkan).

Monday, September 28, 2026

El Nino dan Ledakan Hama: Kala Lampung Dikepung Belalang Kembara

Perubahan habitat serta kemarau panjang dan kering berperan menciptakan kondisi ekologi yang mendukung terjadinya ledakan belalang kembara, Locusta migratoria manilensis.

Sunday, August 30, 2026

Ganjur cabai, Asphondylia capsicicola: Setengah Abad Tak Terendus

Seekor ganjur yang bersembunyi di balik puru buah cabai sempat luput dari perhatian selama puluhan tahun. Tiga perempat abad berselang, ia dinyatakan sebagai spesies baru, Asphondylia capsicicola.

Tuesday, July 28, 2026

Kenangan Bergelut dengan Ulat Grayak Bawang, Spodoptera exigua

Warisan paling berharga dari penelitian hama Spodoptera exigua pada bawang merah di Ciledug bukanlah publikasi atau teknologi, melainkan lahirnya petani yang mampu menjadi mitra sejajar dalam mengembangkan dan merawat inovasi.

Sunday, June 28, 2026

Ketika PHT Bersemi di Kebun Kelapa

Pengendalian ulat Artona catoxantha di kebun-kebun kelapa rakyat Jawa Tengah pada awal 1930-an melahirkan sebuah sistem pengelolaan hama yang jauh mendahului zamannya.

Friday, May 29, 2026

Ulat Grayak Spodoptera mauritia dan Mythimna separata: Hama Sporadis nan Bengis

Gerombolan ulat Spodoptera mauritia dan Mythimna separata terkadang menyerbu tiba-tiba dan menghilang begitu saja, meninggalkan persawahan yang luluh lantak.

Monday, April 27, 2026

Wednesday, March 4, 2026

Menyoroti Tiga "Serigala Berbulu Domba" di Kebun Singkong

Dengan tubuh terselubung lapisan lilin putih, larva Plesiochrysa ramburi, Spalgis epius, dan Cryptolaemus montrouzieri bisa leluasa menyusup ke tengah koloni kutu putih tanpa diusik semut.

Wednesday, February 18, 2026

Monday, December 29, 2025

Hari-hari Panjang Membersamai Ledakan Ulat Bulu dan Kumbang Tomcat

Awal tahun 2011 dan 2012 ulat bulu dan kumbang tomcat bergiliran menjadi magnet yang menyedot pemberitaan di koran dan televisi.