Saat aku meninggal nanti, aku masih butuh waktu sekitar 100 tahun lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku.
Pada tahun 1925, ketika P van der Goot menuntaskan disertasi doktornya tentang penggerek padi putih, Scirpophaga innotata, sosok yang menjadi promotornya adalah Prof. Roepke.
Peran yang sama kembali ia jalankan pada 1928, saat S Leefmans dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa di bidang hama tanaman.
Dua tahun berselang, pada 1930, tatkala LGE Kalshoven menyusun disertasi tentang rayap pohon jati, Neotermes tectonae, nama Prof. Roepke sekali lagi muncul sebagai promotor.
Sudah barang tentu, rangkaian peristiwa itu terjadi bukan secara kebetulan. Roepke adalah profesor di Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen yang menguasai permasalahan hama di Hindia Belanda. Tak heran, ia pernah tinggal hampir 11 tahun (1908-1919) di Hindia Belanda tanpa jeda.
Lantas, siapakah sosok Roepke itu (Gambar 1) dan apa saja kiprahnya untuk Hindia Belanda ?.
![]() |
| Gambar 1. Prof. Dr. Walter Karl Johann Roepke (Sumber: Journal of Lepidopterists' Society 1960) |
Nama lengkapnya Walter Karl Johann Roepke. Ia dilahirkan pada 18 September 1882 di Hohensalza, provinsi Posen (kini termasuk wilayah Polandia) dari keluarga berdarah Jerman.
Ia menyelesaikan sekolah menengahnya di Bromberg. Sejatinya, ayahnya mengharapkan dia untuk berkarier di bidang perbankan. Tapi, Roepke lebih tertarik pada ilmu-ilmu alam, sebuah pilihan yang kelak menentukan perjalanan hidupnya.
Tahun 1901 ia mengawali studi biologi pada Universitas Berlin. Setahun kemudian, ia memutuskan pindah ke Universitas Zurich karena tertarik dengan nama besar Profesor M. Standfuss, seorang pakar yang menekuni anatomi dan taksonomi Lepidoptera. Kemungkinan sejak masa itulah minat Roepke terhadap Lepidoptera mulai terbentuk dan mengakar.
Ketertarikannya pada serangga bukan sekadar akademis. Ia dikenal memiliki kebiasaan unik. Konon, setiap kali memasuki sebuah penginapan, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa tempat tersebut untuk mengetahui adanya serangga "penyusup", yang mungkin terdapat pada dinding atau sudut ruangan, atau tertarik pada lampu minyak di beranda.
Seusai meraih gelar doktor pada 1907, ia berkeinginan untuk mengenal kehidupan dunia tropik. Kesempatan itu datang setahun kemudian, ketika pada 1908 ia menerima tawaran sebagai asisten entomologi di Stasiun Percobaan di Salatiga, Jawa Tengah.
Ia mula-mula ditempatkan di stasiun pembantu di Bandung, dengan tugas meneliti serangga perusak tanaman kina. Namun, pergumulannya dengan hama kina tidak berlangsung lama. Pada 1 November 1909, ia dipindahkan ke Salatiga, yang saat itu menjadi pusat penelitian perkebunan dataran tinggi milik swasta.
Di Salatiga, Roepke segera berhadapan dengan tantangan terbesar dalam budidaya kakao yaitu serangan penggerek buah kakao, Conopomorpha cramerella, hama yang sangat merugikan.
Masalah ini sebenarnya telah lebih dahulu ditangani oleh Zehntner, direktur stasiun percobaan kakao (1900–1906). Ia merekomendasikan teknik rampasan, yakni penghilangan seluruh buah kakao dari berbagai fase perkembangan di antara masa panen utama.
Roepke tidak berhenti pada pendekatan tersebut. Ia memperluas kajian melalui studi bioekologi hama, menelusuri kemungkinan tumbuhan inang lain, mengidentifikasi musuh alami, serta menguji kerentanan berbagai klon kakao terhadap serangan penggerek buah kakao. Ia juga meninjau ulang dasar biologi dari rampasan dan menyempurnakan penerapannya di lapangan.
Pada tahun 1909, ia menerima sampel penggerek biji kopi, Stephanoderes hampei (kini: Hypothenemus hampei), dari Jawa Barat. Roepke menjadi orang pertama yang memperingatkan potensi bahaya hama baru asal Afrika itu bagi perkebunan kopi di Hindia Belanda. Sebuah peringatan yang menunjukkan ketajaman analisisnya terhadap ancaman hama asing invasif.
Selain penggerek buah kakao, ancaman datang dari kepik Helopeltis. Sayangnya, setelah didapuk sebagai Kepala Stasiun Percobaan Salatiga pada 1 Juli 1913, Roepke tak punya cukup waktu lagi untuk terjun langsung dalam kegiatan penelitian. Tugas-tugas administrasi membebani kesehariannya.
Untuk itu, pada 1914 ia mendatangkan P. van der Goot sebagai asisten entomologi. Salah satu tugas utama yang diberikan kepadanya adalah meneliti peran semut hitam dalam ekosistem kakao, terutama kaitannya dengan hama Helopeltis dan kutu putih. Sebuah kajian yang kemudian membuka perspektif ekologi dalam pengelolaan hama. Ihwal ini dapat dibaca pada postingan sebelumnya "Tanpa Semut Hitam Tak Ada Kakao".
Selain meneliti penggerek buah kakao dan Helopeltis, Roepke juga mencatat dan mengamati berbagai serangga lain yang berasosiasi dengan tanaman kakao. Tidak hanya sebagai hama, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan ekosistem. Hasil pengamatannya itu kemudian dirangkum dalam monograf "Cacao" yang terbit tahun 1917 (Gambar 2).
![]() |
| Gambar 2. Sampul muka buku "Cacao" yang disusun oleh Roepke bertahun terbit 1917. |
Karya tersebut memuat pembahasan sekitar 60 spesies atau genus serangga, menjadikannya salah satu rujukan penting dalam memahami kompleksitas interaksi biologi di perkebunan kakao pada masa itu.
***
Luasnya pengetahuan Roepke tentang berbagai aspek hama tanaman membuatnya kerap menjadi rujukan bagi para kolega dari beragam stasiun percobaan, termasuk lembaga penelitian pertanian di Buitenzorg.
Reputasi itu menempatkannya bukan sekadar sebagai peneliti, tetapi juga sebagai seseorang yang serba bisa dalam menangani persoalan hama yang mendesak di Hindia Belanda.
Peran tersebut tampak jelas ketika pada tahun 1914 terjadi ledakan belalang di kawasan hutan jati Kedoeng Djati, Jawa Tengah. Pemerintah kolonial meminta Roepke turun tangan untuk mengungkap penyebabnya, sekaligus merumuskan langkah penanggulangannya.
Serangan itu tidak hanya melanda hutan jati, tetapi juga merusak pertanaman kelapa, pisang, dan berbagai vegetasi di sekitarnya (Gambar 3).
![]() |
| Gambar 3. Tumbuhan yang rusak berat oleh serangan belalang di Kedoeng Djati, Februari 1915 (Sumber: Roepke 1915). |
Untuk memastikan identitas spesies, Roepke mengirimkan spesimen ke pakar taksonomi di Eropa. Hasil identifikasi menyebutkan belalang tersebut sebagai Acridium melanocorne Serv. Dalam literatur kiwari ia dikenal sebagai Valanga nigricornis melanocornis (Serv.). Subspesies ini diketahui memiliki persebaran terbatas pada wilayah dengan musim kemarau yang tegas, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Meski penelitiannya hanya berlangsung selama satu musim, hasil yang diperoleh tergolong komprehensif. Roepke menguraikan secara rinci siklus hidup, musuh alami, serta faktor lingkungan yang mendorong terjadinya ledakan populasi belalang tersebut.
Ia menunjukkan bahwa hutan jati merupakan habitat utama perkembangbiakan V. nigricornis melanocornis. Sementara itu, ledakan populasinya diduga kuat dipicu oleh musim kemarau yang sangat kering yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Dalam pengamatannya, Roepke juga menaruh perhatian pada kumbang Mylabris pustulata Th. (Meloide), yang larvanya berperan sebagai parasitoid pada kelompok telur belalang tersebut. Kala itu kumbang ini sangat banyak dijumpai.
Dalam laporannya, Roepke mengenang bahwa pada awal tahun 1915, populasi kumbang itu meningkat tajam. Di seluruh kawasan hutan jati di Jawa Tengah, kumbang M. pustulata muncul dalam jumlah melimpah, sedemikian rupa hingga menarik perhatian masyarakat luas.
***
Pada paruh kedua Perang Dunia I, ketika arus pengiriman produk pertanian mulai tersendat, Roepke mengalihkan fokus penelitiannya ke persoalan serangga hama yang merusak di tempat penyimpanan.
Peralihan ini memperluas jejaring kerjanya, membawanya berinteraksi dengan berbagai institusi pemerintah. Hingga akhirnya, pada 1918, ia diminta bergabung sebagai staf peneliti di Instituut voor Plantenziekten (IvPZ) [Balai Penyelidikan Hama Tumbuh-tumbuhan] di Buitenzorg.
Di tempat barunya ini, Roepke memiliki kesempatan untuk mengolah berbagai data yang ia kumpulkan sebelumnya, sekaligus membuka jalur penelitian baru.
Ia, misalnya, menyusun pedoman penyimpanan padi agar terhindar dari serangan serangga hama. Ia juga terlibat dalam kajian mengenai penggerek buah kopi.
Selain itu, ia melakukan kajian tentang serangan ulat grayak Mythimna separata (Wlk) pada persawahan di Buitenzorg. Kegiatan sampingan lainnya yaitu melakukan pengamatan kehidupan bangbara genus Xylocopa.
Namun, masa baktinya di lembaga tersebut tidak berlangsung lama. Pada 1919, Roepke menerima panggilan untuk kembali ke Belanda guna menduduki jabatan profesor pertanian tropik di Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen.
Meski banyak hasil risetnya yang telah ia publikasikan, Roepke masih menyimpan segudang data yang belum diolah, serta catatan, foto, dan gambar yang belum pernah dipublikasikan. Semuanya itu ia bawa pulang ke Belanda.
***
Pada tahun 1929, Roepke berkesempatan kembali menginjakkan kaki di Hindia Belanda sebagai anggota delegasi Kongres Ilmu Pengetahuan Pan-Pasifik di Batavia.
Kunjungan ilmiah itu bertepatan dengan terjadinya ledakan ulat siput (Cochlidiidae) yang menyerang banyak kebun kelapa di Pulau Bacan.
Mumpung Roepke lagi berada di Batavia, Direktur Pertanian Hindia Belanda meminta bantuan dia untuk menyelidiki penyebab ledakan ulat siput, sekaligus merumuskan langkah penanggulangannya.
Bagi Roepke, ini bukan sekadar tugas, melainkan kesempatan untuk tinggal lebih lama di Hindia Belanda.
Perjalanan ke Maluku ia lakukan bersama Tjoa Tjien Mo, seorang asisten peneliti di IvPZ. Selama kurang lebih enam minggu, sejak 8 Juli hingga 15 Agustus 1929, keduanya bermukim di Labuha. Sebuah kota pesisir yang dijadikan lokasi pendirian laboratorium lapangan.
Wilayah penelitian utama mereka terletak di perkebunan kelapa Penambuan milik Batjan Archipel Maatschappij, sekitar tujuh kilometer dari Labuha. Namun, eksplorasi mereka tidak terbatas di sana.
Dengan perahu motor, keduanya blusukan di Pulau Ombit untuk menelusuri keberadaan ulat siput pada tanaman kelapa. Penelusuran lapangan berlanjut ke Belam-Belam pada 8 Agustus, dan beberapa hari kemudian, 11–13 Agustus, mereka menyusuri kawasan pegunungan Gunung Sibela.
Dari rangkaian blusukan itu terungkap bahwa ada dua spesies ulat siput yang terlibat dalam ledakan tersebut. Salah satunya adalah Chalcocelis albiguttata (Sn.), sementara yang lain merupakan spesies baru dari genus Thosea (Gambar 4).
![]() |
| Gambar 4. Imago Chalcocelis albiguttata (kolom 1 dan 2) dan Thosea moluccana (kolom 3 dan 4) (Sumber: Roepke 1935). |
Roepke kemudian mendeskripsikan dan mengidentifikasi spesies baru tersebut sebagai Thosea moluccana Roepke. Penelitian ini menjadi tonggak awal dalam upaya pengendalian hayati terhadap hama ulat siput di wilayah tersebut.
Sebagai entomologiwan yang menaruh minat pada Lepidoptera, ia tak menyia-nyiakan kunjungannya di Bacan untuk mengoleksi kupu-kupu legendaris Troides (Ornithoptera) priamus croesus.
Kupu-kupu ini pertama kali diperkenalkan ke dunia ilmiah oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1859. Kupu-kupu ini terkenal karena keindahan sayapnya yang berkilau keemasan di atas latar hitam beludru.
Namun, rupanya tak gampang untuk menemukan kupu-kupu tersebut. Utamanya lantaran mereka hidup di rawa-rawa sagu yang sulit dijangkau. Padahal, Roepke sangat ingin memilikinya. Terlebih lagi, ia tak mau pulang dengan tangan hampa.
"Setelah blusukan kesana-kemari dan kerjasama dengan penduduk setempat, saya akhirnya memperoleh larva, pupa, dan beberapa spesimen serangga dewasa."
Begitu kenang Roepke sebagaimana yang ia tulis dalam artikel "Herinneringen van een Entomoloog aan het Eiland Batjian" [Kenangan Seorang Entomologiwan Tentang Pulau Batjan] yang dimuat di majalah De Tropische Natuur (1935)
Dalam perjalanan kembali dari Maluku, Roepke singgah di Medan, lalu melanjutkan kunjungan ke dataran tinggi Aceh untuk mengamati hutan Pinus merkusii serta kehidupan lebah hutan Apis dorsata.
***
Sejak awal kedatangannya di Hindia Belanda, Roepke memang selalu berusaha memastikan bahwa serangga yang merusak tanaman perlu diidentifikasi dengan benar. Tak heran, bila ia menjadi rujukan bagi para entomologiwan lain di Hindia Belanda.
Bahkan, setelah pulang ke Wageningen pun, ia tetap berkontribusi besar pada entomologi terapan bagi Hindia Belanda. Itu dilakukannya melalui kuliah, praktikum, serta penataan koleksi berbagai serangga yang ia bawa dari Hindia Belanda.
Koleksi serangganya itu tersimpan di Rijksmuseum van Natuurlijke Historie di Leiden. Koleksi ini menjadi landasan penting bagi berbagai studi morfologi dan taksonomi serangga, sekaligus memperkaya pemahaman tentang keanekaragaman fauna tropik.
Selama bertahun-tahun, Roepke menekuni kajian tentang Lepidoptera dari Hindia Belanda, khususnya Pulau Jawa. Hasilnya terwujud dalam monograf "De Vlinders van Java" yang terbit pada 1932 (Gambar 5).
![]() |
| Gambar 5. Sampul muka buku "De Vlinders van Java" yang disusun oleh Roepke bertahun terbit 1932. |
Monograf ini memuat sekitar 230 ilustrasi kupu-kupu, lengkap dengan catatan biologi, teknik pengoleksian, serta pemeliharaannya. Lebih dari sekadar karya ilmiah, buku ini juga dimaksudkan untuk memopulerkan studi serangga.
Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui seri monograf "Rhopalocera Javanica" yang terdiri atas empat volume. Volume I (1935) membahas famili Papilionidae dan Pieridae (Gambar 6).
![]() |
| Gambar 6. Sampul muka buku "Rophalocera Javanica" Volume I yang disusun Roepke bertahun terbit 1935. |
Volume II (1936) mengulas Danaidae, Satyridae, dan Amathusiidae; volume III (1938) menyoroti Nymphalidae; sementara volume IV (1942) mencakup Libytheidae dan Lemoniidae.
Ketertarikan Roepke pada kupu-kupu sama besarnya dengan pada ngengat. Ini dicerminkan oleh monograf "Heterocera Javanica: Fam. Sphingidae, Hawk Moths" yang ditulis bersama Dupont dan terbit pada 1941 (Gambar 7).
![]() |
| Gambar 7. Sampul muka buku "Heterocera Javanica" yang disusun oleh Dupont dan Roepke bertahun terbit 1941. |
Monograf ini memuat deskripsi singkat, catatan kritis, kunci identifikasi, yang dilengkapi 11 ilustrasi tentang ulat dan pupa, serta 12 foto ngengat.
Sebagai catatan tambahan, saya berupaya mendapatkan versi pdf dari monograf ini melalui pencarian di internet. Hasilnya nihil. Sebaliknya, saya menjumpai monograf tersebut ditawarkan di salah satu situs buku antik dan langka dengan harga € 25.00 atau sekitar Rp 400 ribu.
Sebagian besar publikasi Roepke selalu diperkaya dengan dokumentasi visual. Hal ini tidak terlepas dari kegemarannya dalam fotografi. Ia dikenal piawai memotret spesimen, terutama Lepidoptera berukuran kecil. Selama tinggal di Jawa, ia melatih seorang pelukis pribumi untuk menghasilkan ilustrasi pena yang akurat.
Setelah pensiun dari Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen pada 1951, Roepke tetap aktif menekuni taksonomi Lepidoptera dari kawasan Asia. Di antara artikel yang ditulisnya yakni "The genus Trabala in the Far East (Lasiocampidae)" (1951), "Delias in Nieuw Guinea" (1955), "The genus Nyctemera" (1957), "The Cossidae of Malay Region" (1957), dan masih banyak lainnya.
Selain berbagai monograf dan artikel, Prof. Roepke juga meninggalkan tiga buku catatan (notes). Di dalamnya berisi dokumentasi pribadi tentang sekitar 350 orang yang ia temui dan terlibat dalam pengumpulan dan penelitian serangga. Dulu sewaktu ia tinggal di Hindia Belanda.
Memang, Roepke selalu tertarik pada aspek sejarah. Itu tercermin pula dari makalahnya "History of entomology in the Dutch East Indies before 1940: A Sketch, yang ia presentasikan pada Kongres Entomologi Internasional ke-IX di Amsterdam pada tahun 1951.
***
Prof. Walter Karl Johann Roepke mengembuskan napas terakhirnya di Wageningen pada 7 Februari 1961, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang ilmuwan yang sepanjang hidupnya menekuni dunia serangga dengan ketekunan yang nyaris tak mengenal jeda.
Di mata para kolega dekatnya, Roepke dikenang sebagai pribadi dengan keluasan dan kedalaman pengetahuan entomologi yang tak ada taranya, ditopang oleh daya ingat yang tajam, antusiasme yang tak pernah surut, serta etos kerja yang luar biasa.
Bagi LGE Kalshoven, penulis buku "The Pests of Crops in Indonesia", ada satu ungkapan Roepke yang selalu terpatri dalam ingatannya.
"Saat aku meninggal nanti, aku masih butuh waktu sekitar 100 tahun lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku".
Pernyataan ini menyiratkan Prof. Roepke sebagai sosok yang memiliki semangat yang meluap dan limpahan gagasan yang seolah tak ada habisnya.
Tapi juga menyiratkan kerendahan hati. Sebanyak apa pun yang telah ia capai, ia merasa masih banyak hal yang belum sempat ia kerjakan.
Anonim.1960. Walter Karl Johann Roepke (1882-1961). Journal of the Lepidopterists' Society 14(4): 241-242.
de Fluiter HJ. 1961. In Memoriam Professor Dr. WKJ Roepke 18 september 1882 - 7 februari 1961. T. Pl.-ziekten 67: 33-35.
Kalshoven LGE. 1953. Roepke's Werk op het Gebied van de Toegepaste Entomologie voor het Voormalig Nederlandsch Oost Indie. Tijdschrift Over Plantenziekten 59: 154–159.
Kalshoven L, Diakonoff A. 1961. Obituary Professor Dr. Walter Karl Johann Roepke 1882-1961. Tijdschrift voor Entomologie 104(6): 78-82.
Roepke WKJ. 1915. Sprinkhaanplagen. Teijsmannia 26: 115-124, 337-358, 758-790.
Roepke WKJ. 1935. De slakrupsenplaag op het Molukken-eiland Batjan. Med. Landb. Hoogesch 39(1): 1-38.
Roepke WKJ. 1935. Herinneringen van een entomoloog aan het eiland Batjan I Trop. Natuur 24(8): 73-83.
van Eyndhoven GL. 1961. Professor Roepke overleden. Entomologische Berichten 21(4): 61.






